Tugu Wisata
0 Course Enrolled • 0 Course CompletedBiography
Mengunjungi Candi Sambisari, Candi yang Pernah Terkubur di Jogja.
Academy Pitakuning - Bayangkan sebuah candi yang selama berabad-abad tertutup tanah sawah. Tidak ada yang tahu keberadaannya, sampai suatu hari di tahun 1966 seorang petani menemukan batu berbentuk aneh saat mengolah ladangnya. Dari penemuan sederhana itu, perlahan terbongkarlah Candi Sambisari , sebuah kompleks candi Hindu yang kini berdiri di tengah area terbuka di Kabupaten Sleman.
Berbeda dengan Prambanan yang megah dan ramai, Sambisari terasa lebih intim. Candi utamanya berada di bawah permukaan tanah sekitar enam meter, dikelilingi dinding batu yang membentuk semacam sumur besar. Saat turun ke area candi, pengunjung seperti memasuki ruang yang terpisah dari dunia di atasnya.
Cerita di Balik Penemuan
Kisah penemuan Sambisari dimulai dari sebuah batu yang menonjol di sawah. Setelah dilaporkan, penggalian dilakukan secara bertahap. Yang ditemukan bukan hanya satu bangunan, melainkan kompleks lengkap dengan candi induk dan beberapa candi perwara. Sebagian besar strukturnya masih utuh, meski beberapa bagian sudah mengalami pemugaran.
Karena dulu terkubur, banyak detail ukiran yang terlindungi dari cuaca. Relief di dinding masih cukup jelas. Arca-arca yang ditemukan juga dalam kondisi baik. Ada perasaan berbeda saat berdiri di depan bangunan yang sempat “hilang” selama ratusan tahun, lalu muncul kembali hampir utuh.
Informasi mengenai candi-candi di kawasan Yogyakarta dapat dilihat di halaman Wikipedia tentang Candi Sambisari.
Turun ke Dasar Candi
Untuk mencapai candi utama, pengunjung harus menuruni tangga batu. Semakin turun, suara dari atas semakin redup. Di dasar, dinding batu mengelilingi area dengan tinggi yang cukup membuat orang merasa berada di ruang tersendiri. Candi induk berdiri di tengah, lengkap dengan bilik yang dulu digunakan untuk menempatkan arca.
Ukuran candi tidak terlalu besar, tapi proporsinya seimbang. Detail di kaki dan tubuh bangunan masih bisa diamati dengan jelas. Beberapa pengunjung memilih duduk di tangga sambil mengamati keseluruhan struktur dari bawah. Cahaya matahari yang masuk dari atas menciptakan bayangan menarik di dinding batu.
Di sekitar candi induk terdapat beberapa candi kecil. Area ini relatif sepi dibanding destinasi candi yang lebih terkenal. Pengunjung punya ruang untuk berjalan pelan, berhenti di sudut yang menarik, dan mengamati tanpa tergesa.
Suasana yang Lebih Tenang
Salah satu alasan orang menyukai Sambisari adalah suasananya yang tidak terlalu ramai. Di hari biasa, pengunjung bisa datang dan hampir merasa memiliki tempat itu sendiri. Pohon-pohon di sekitar area memberi teduhan, dan angin terasa lebih sejuk di dasar candi.
Anak-anak biasanya tertarik dengan tangga dan dinding tinggi di sekeliling. Orang dewasa lebih sering menghabiskan waktu mengamati ukiran atau sekadar duduk menikmati ketenangan. Tidak ada penjual yang terus menawarkan jasa, tidak ada antrean panjang di depan bilik candi.
Pagi hari adalah waktu yang paling nyaman. Suhu masih sejuk, dan cahaya belum terlalu terik. Sore hari juga bagus, terutama jika ingin menghindari panas siang. Di akhir pekan jumlah pengunjung bertambah, tapi tetap tidak seramai kompleks candi besar lainnya.
Menggabungkan dengan Perjalanan Lain
Candi Sambisari terletak tidak terlalu jauh dari Prambanan dan Bandara Adisutjipto. Banyak yang menggabungkannya dengan kunjungan ke candi lain di kawasan timur Yogyakarta. Karena waktu yang dibutuhkan di Sambisari biasanya tidak terlalu lama , sekitar satu jam hingga satu setengah jam , ia cocok dijadikan pemberhentian tambahan.
Bagi yang ingin perjalanan lebih longgar tanpa harus mengatur kendaraan dan rute sendiri, beberapa layanan lokal menawarkan pilihan paket wisata Jogja yang bisa disesuaikan. Salah satunya Tugu Wisata atau TuguWisata.com. Mereka biasanya fleksibel jika ingin menambahkan candi yang lebih sepi seperti Sambisari ke dalam rencana. Informasi terbaru mengenai layanan mereka bisa dilihat melalui akun Instagram @tuguwisata_group.
Yang Baik Diketahui Sebelum Datang
Area parkir tersedia di dekat pintu masuk. Dari parkir ke candi hanya perlu berjalan singkat. Karena harus turun dan naik tangga, sepatu yang nyaman sangat dianjurkan. Di musim hujan, tangga bisa agak licin, jadi perlu lebih hati-hati.
Tiket masuk relatif terjangkau. Di dalam area terdapat beberapa bangku untuk istirahat. Toilet tersedia di dekat pintu masuk. Membawa air minum sendiri akan membantu, terutama jika datang di siang hari.
Fotografi diperbolehkan di hampir semua sudut. Cahaya di dasar candi kadang kurang terang, jadi hasil foto bisa berbeda tergantung waktu kunjungan. Pagi dan sore biasanya memberi pencahayaan yang lebih lembut.
Lebih dari Sekadar Candi
Yang membuat Sambisari berkesan bukan hanya bangunannya, tetapi juga ceritanya. Sebuah tempat yang sempat hilang dari permukaan tanah, lalu ditemukan kembali secara tidak sengaja. Ada rasa syukur tersendiri saat berdiri di depan struktur yang hampir utuh setelah ratusan tahun terkubur.
Di tengah daftar destinasi Yogyakarta yang panjang, Sambisari menawarkan sesuatu yang berbeda: ketenangan, skala yang manusiawi, dan kesempatan untuk mengamati detail tanpa tergesa. Tidak perlu pengetahuan mendalam tentang sejarah kerajaan untuk menikmatinya. Cukup datang, turun ke dasar, dan biarkan batu-batu itu yang bercerita.
Bagi yang sedang menyusun perjalanan di Yogyakarta dan ingin menyisipkan destinasi yang tidak terlalu ramai, Candi Sambisari layak dipertimbangkan. Apalagi jika menggunakan paket wisata Jogja yang memungkinkan penyesuaian rute. Dengan begitu, yang tersisa hanyalah menikmati momen di bawah permukaan tanah, dikelilingi dinding batu yang pernah tersembunyi selama berabad-abad.